#DDP3-Tolong Rahasiakan

Kuberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah sederhana bercat krem itu seraya mengucapkan salam. Tak lama menunggu, seorang wanita berkerudung hijau berumur sekitar dua puluh lima tahun muncul sambil membawa bocah laki – laki dalam kain gendongan.

“Ada perlu apa ya, Mas?” cetus wanita itu.

Kuulurkan jabat tanganku kepadanya “Perkenalkan, nama saya Davin. Saya ingin menemui Ibu Yeyen. Apakah beliau ada?”

Kulihat semburat keraguan dimatanya. Sesaat ia seperti menimbang – nimbang untuk menyambut ramah tamahku, sampai akhirnya ia menjabat tanganku sekilas dan berkata, “Saya Yeyen, Mas-nya ada keperluan apa mencari saya?”

Sekarang giliran aku yang ragu untuk berucap, kutangkupkan sedikit keberanian yang bisa kukumpulkan dalam hati agar suara dalam  kerongkongan dapat keluar. “Hmmm, saya wartawan dari koran XXX. Saya ingin melakukan wawancara dengan Ibu, bisa?”

“Hnnngg, aduh…….wawancara ya, Mas?” mata kecilnya bergerak liar kesana kemari. Ke langit – langit teras, ke halaman, ke lantai semen dibawah kakinya, ke kandang ayam disebelah pohon mangga, sampai baju polo shirt biru yang kupakai saat itu pun menjadi sasaran tatapan liarnya, tapi tidak pernah sekalipun ia menatap lurus ke mataku. Kurasakan kembali keraguan yang menjalar pada tubuh wanita itu, namun kali ini sedikit bercampur dengan rasa takut.

“Ada imbalannya, kok tenang saja” seolah perkataanku barusan dapat mencairkan suasana, menghilangkan pancaran ragu dan takut dari mata itu.

“Mas mau mewawancarai saya tentang kasus ‘itu’ ,ya?”. Aku pun segera memahami pertanyaan yang dilontarkannya. Kuanggukan kepalaku kearahnya, sedikit mencuri pandang menengok kedalam gendongan kain berwarna merah yang berada di punggungnya, di dalam kain itu terlihat seorang malaikat kecil sedang tertidur pulas.

“Boleh , Mbak Yen?” kuubah kata Ibu menjadi Mbak. Biar lebih akrab pikirku. Toh, umur kami berdua juga tak terlampau jauh.

“Ya, boleh saja, Mas. Tapi sebelumnya saya punya satu permintaan……...” ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. “ Tolong nama saya disamarkan dan foto saya tidak dipublikasikan. Kasihan nanti anak saya, Mas. Dia bisa diejek teman – temannya bila punya ibu dengan masa lalu seperti saya”.

“Oh……ya…..ya…..tentu saja. Saya bisa menjamin soal itu” terbayang wajah kecewa kepala redaksiku bila tahu berita yang kuliput tidak lengkap sesuai permintaannya. Tapi setidaknya aku berhasil membuat wanita ini bersedia diwawancara. Ya, menurutku itu saja sudah cukup, yang penting aku bisa memperoleh kebenaran dari nara sumber utama.
***
Kuhidupkan layar komputerku. Siap menumpahkan hasil wawancara tadi siang ke dalam tulisan. Kali ini aku akan mengangkat kisah seorang wanita yang dahulu pernah bekerja sebagai TKI di Arab Saudi. Dia berangkat dengan semangat, membawa impiannya untuk mengumpulkan pundi – pundi emas demi menghidupi keluarga di kampung yang tak punya. Tapi semua impian dan semangatnya pupus akibat ulah keji majikan sekaligus ayah dari bocah kecil dalam gendongan kain berwarna merah itu.  



Dalam rangka tugas mata kuliah Dasar - dasar Penulisan 

Sylvia S. Fiesta Ria 11/314345/SP/246

Hello Rain

Hujan bikin semua kenangan menyeruak lagi



***











 Rindu ya

Eh


Themes baru, poni baru!!!!
.
.
.
.
.
.
.
.

tapi pocat

.
.
.
.
.
.
.
.







*maaf ya kalo bikin sakit mata*


~(.____.)~







*sniff sniff*
 rambutnya harum stobeli :3






#DDP2-Hoaaaaamhh

Semilir udara pagi Jogja yang sejuk seakan berusaha menggoda kelopak mataku, sedikit memaksanya untuk segera terbuka. ‘’Uh, jam berapa ya sekarang?’’ batinku. Perlu usaha yang cukup keras untuk membuat mataku terbuka sepenuhnya. Setelah beberapa kali membuat gerakan seperti orang yang matanya kemasukan debu, kusentakkan mataku agar terbuka lebar. Jam di telepon genggam masih menunjukan pukul  enam, sedangkan mata kuliah pertama hari itu mulai sekitar pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Tanpa pikir panjang kupeluk kembali bantal gulingku sebelum teringat sebuah janji untuk membangunkan seseorang. Kuraih telepon genggam dari balik bantal, menekan tombol hijau dan tak lama terdengar nada sambung. Entah pada deringan keberapa akhirnya sambunganku berbalas. Kemudian memastikan penelepon disebrang sana sudah benar – benar bangun. Sambungan itu tak bertahan lama, karena penerima telepon barusan harus segera bersiap – siap untuk berangkat ke kampus.

               Sekali lagi kutarik satu – satunya guling di tempat tidurku itu kedalam pelukan. Kurebahkan kembali tubuhku di atas kasur yang kira – kira berukuran sembilan puluh senti. Perasaan nyaman yang menjalar  sontak berubah menjadi rasa kantuk.  Masih sempatlah tidur barang sepuluh menit pikirku.  Tak terasa tiga puluh menit sudah berlalu, untuk kedua kalinya aku melihat jam yg ada di telepon genggam. HAH, sudah pukul setengah tujuh lewat sedikit! Dengan langkah terburu – buru aku pun bergegas menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.

               ‘’Kasur itu benar – benar seperti jebakan manis’’ tuturku pada diri sendiri, seakan keterlambatanku masuk ke kelas pagi itu adalah salah sang kasur. Tapi kalau dipikir – pikir memang sulit sekali rasanya meninggalkan kasur yang berbalut sprei ungu dengan motif sapi dan bintang itu bila sudah berbaring di atasnya. Seperti ada magnetnya lah kalau boleh berandai – andai.

Kasur itu bukan berjenis springbed yang besar dan empuk, hanya sebuah kasur busa yang ukurannya sedikit lebih panjang dari tinggi badan. Berbagai macam aktivitas kulakukan di atas kasur itu. Sarapan, makan siang, makan malam, nonton televisi, mengerjakan tugas, sampai menanak nasi sekalipun kulakukan di sekitarnya. Si kasur sapi itu yang menemaniku di hari – hari pertama menjadi anak rantau yang dipenuhi perasaan homesick. Dia jugalah yang menemaniku begadang mengerjakan tugas sampai subuh.  Seperti mempunyai sahabat yang tak bisa berbicara rasanya.
***
                ‘’Hei, Sil. Itu dosennya datang’’ bisik Eca teman sebangkuku sambil menyenggol kecil dengan sikunya. Lamunanku buyar seketika. Kulihat dosen sudah didepan kelas sambil mempersiapkan materi. Ah yaampun, sudah sampai di kampus masih saja melamunkan si kasur. Belum apa – apa sudah rindu ingin segera kembali ke kost. Segera kuambil buku pengantar kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia dari dalam tas  sekedar untuk mengalihkan pikiran. Saat dosen mulai memberikan materi kuliah, tiba – tiba terlintas ide di otakku untuk tugas mata kuliah Dasar – dasar Penulisan. Ya, aku akan menulis tentang kasur.


Dalam rangka tugas mata kuliah Dasar - dasar Penulisan 

Sylvia S. Fiesta Ria 11/314345/SP/246

                 

#DDP1-Yang Menarik

Kulengokan kepalaku ke kiri dan ke kanan, sekedar melihat keadaan sekitar saat menuruni tangga sebelah selatan gedung Fisipol Bulaksumur seusai mengikuti kelas dasar – dasar penulisan. Sebelum kelas usai tadi, Mas Nunung menyampaikan kepada seisi kelas untuk membuat sebuah karangan tentang hal menarik yang didapati saat keluar dari lobi dan menuruni tangga keluar dari gedung Fisipol. Lalu disinilah aku, sedang berusaha mengamati keadaan sekitar saat menuruni tangga menuju kantin bersama Eca, Asty, dan Usna.

‘’Apa ya yang menarik? ‘’ , kulontarkan pertanyaan itu pada diriku. Kulemparkan pandanganku ke depan kearah taman Sansiro dan kantin Fisipol. Tidak ada yang menarik perhatian. Kutengok ke segala penjuru, belum juga ada yang menarik. Haaaaaah, kutarik napas panjang sembari menengok ke atas, ke arah pepohonan rindang, ke arah konstruksi gedung Fisipol yang sedang dibangun. Agak lama gedung bertingkat yang belum rampung itu menyita pandanganku. Ah! Akhirnya kutemukan juga hal yang menarik. Ya, kurasa gedung ini yang memenangkan perhatianku. Segera kuteliti lebih detil, kucurahkan seluruh pandanganku dan mengamati gedung itu.

Kulihat beberapa pekerja sedang mengangkat – angkat bahan bangunan, sebagian sedang membangun konstruksi, yang lainnya sedang mengaduk semen. Di sudut – sudut kulihat juga ada yang sedang ngaso, mencoba memulihkan tenaga mereka sebelum kembali bekerja. Mengamati setiap tingkah laku para pekerja itu merupakan pemandangan yang cukup menarik, dan sempat terbersit di pikiranku saat itu ‘’kira – kira berapa ya gaji yang mereka terima dalam sehari?’’. Meski bukan urusanku sama sekali untuk tahu – menahu mengenai pendapatan mereka.

Merasa cukup mengamati para pekerja yang sedang sibuk merampungkan gedung yang kelak menjadi tempatku belajar itu, kualihkan perhatianku pada gedung seperempat atau hampir setengah jadi itu. Gedung itu menjulang tinggi, bisa kuprediksi gedung itu mampu menampung banyak sekali mahasiswa. Oh ya, kukira gedung itu pasti juga mempunyai lift nantinya, dan semoga lift itu bisa segera digunakan. Jangan seperti lift yang ada di gedung Fisipol tempatku berkuliah setiap hari. Lift itu seakan hanya sebuah hiasan, setidaknya menunjukan prestise sebuah gedung yang mewah. Namun apalah artinya bila tidak bisa digunakan. Ujung – ujungnya harus bergantung pada tangga lagi. Rasanya kaki ini mau copot kalau kebetulan dapat kelas di lantai atas, apalagi kalau sedang terburu – buru dan harus berlari sebanyak tiga lantai. Aku bisa berkata seperti ini karena pengalaman diri sendiri hehehe.

Usai mengamati setiap detil gedung ini dan merasa bahan untuk tulisan sudah cukup, aku kembali melihat catatan tugas yang ada di genggaman. Disitu tertulis ‘’Apa yang diharapkan dari hal menarik tersebut?’’ . Oh, ternyata masih ada sisa pertanyaan. Hampir saja terlewat. Kembali aku sedikit merenung, kira – kira jawaban apa yang tepat untuk menyampaikan harapanku. Kulihat gedung itu, kemudian terlintas sebuah harapan dalam hatiku. Ya, aku berharap gedung itu bisa menjadi saksi bisu bagiku dan bagi seluruh mahasiswa Fisipol lainnya. Saksi kerja keras dan usaha kami merintis masa depan yang penuh harapan.


Dalam rangka tugas mata kuliah Dasar - dasar Penulisan 

Sylvia S. Fiesta Ria 11/314345/SP/24611