Semilir udara pagi Jogja yang sejuk seakan berusaha menggoda kelopak mataku, sedikit memaksanya untuk segera terbuka. ‘’Uh, jam berapa ya sekarang?’’ batinku. Perlu usaha yang cukup keras untuk membuat mataku terbuka sepenuhnya. Setelah beberapa kali membuat gerakan seperti orang yang matanya kemasukan debu, kusentakkan mataku agar terbuka lebar. Jam di telepon genggam masih menunjukan pukul enam, sedangkan mata kuliah pertama hari itu mulai sekitar pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Tanpa pikir panjang kupeluk kembali bantal gulingku sebelum teringat sebuah janji untuk membangunkan seseorang. Kuraih telepon genggam dari balik bantal, menekan tombol hijau dan tak lama terdengar nada sambung. Entah pada deringan keberapa akhirnya sambunganku berbalas. Kemudian memastikan penelepon disebrang sana sudah benar – benar bangun. Sambungan itu tak bertahan lama, karena penerima telepon barusan harus segera bersiap – siap untuk berangkat ke kampus.
Sekali lagi kutarik satu – satunya guling di tempat tidurku itu kedalam pelukan. Kurebahkan kembali tubuhku di atas kasur yang kira – kira berukuran sembilan puluh senti. Perasaan nyaman yang menjalar sontak berubah menjadi rasa kantuk. Masih sempatlah tidur barang sepuluh menit pikirku. Tak terasa tiga puluh menit sudah berlalu, untuk kedua kalinya aku melihat jam yg ada di telepon genggam. HAH, sudah pukul setengah tujuh lewat sedikit! Dengan langkah terburu – buru aku pun bergegas menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
‘’Kasur itu benar – benar seperti jebakan manis’’ tuturku pada diri sendiri, seakan keterlambatanku masuk ke kelas pagi itu adalah salah sang kasur. Tapi kalau dipikir – pikir memang sulit sekali rasanya meninggalkan kasur yang berbalut sprei ungu dengan motif sapi dan bintang itu bila sudah berbaring di atasnya. Seperti ada magnetnya lah kalau boleh berandai – andai.
Kasur itu bukan berjenis springbed yang besar dan empuk, hanya sebuah kasur busa yang ukurannya sedikit lebih panjang dari tinggi badan. Berbagai macam aktivitas kulakukan di atas kasur itu. Sarapan, makan siang, makan malam, nonton televisi, mengerjakan tugas, sampai menanak nasi sekalipun kulakukan di sekitarnya. Si kasur sapi itu yang menemaniku di hari – hari pertama menjadi anak rantau yang dipenuhi perasaan homesick. Dia jugalah yang menemaniku begadang mengerjakan tugas sampai subuh. Seperti mempunyai sahabat yang tak bisa berbicara rasanya.
***
‘’Hei, Sil. Itu dosennya datang’’ bisik Eca teman sebangkuku sambil menyenggol kecil dengan sikunya. Lamunanku buyar seketika. Kulihat dosen sudah didepan kelas sambil mempersiapkan materi. Ah yaampun, sudah sampai di kampus masih saja melamunkan si kasur. Belum apa – apa sudah rindu ingin segera kembali ke kost. Segera kuambil buku pengantar kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia dari dalam tas sekedar untuk mengalihkan pikiran. Saat dosen mulai memberikan materi kuliah, tiba – tiba terlintas ide di otakku untuk tugas mata kuliah Dasar – dasar Penulisan. Ya, aku akan menulis tentang kasur.
Dalam rangka tugas mata kuliah Dasar - dasar Penulisan
Sylvia S. Fiesta Ria 11/314345/SP/246


0 comments:
Post a Comment