Day 4




Kita ini ibarat lapisan emas yang sedang dipoles...

Kita ini ibarat ulat yang belum jadi kupu-kupu....

Kita ini sedang berproses.

Hingga nanti kita jadi emas yang berkilau dan kupu-kupu yang memukau.

Yes, we will shine.

Soon.




Day 3: Deep Deep Down





Bruk!
Aku jatuh.
Dalam.
Terlalu dalam.
Sangat dalam.


Bruk!
Aku terperosok.
Makin dalam,
dan semakin dalam.


Ah!
Disini nyaman.
Disini menyenangkan.
Disini aku bahagia.


Hem...
Tolong, Tuhan.
Bolehkah aku bergelung di dalam sini selamanya?


That Voice, That Memories, That Pain

"Kakak, ambilin minum"

"Kakak, gorengin dulu telor"

"Kakak, tutup gerbang"

"Kakak, mau makan KFC ga?"

"Kakak, mau martabak ga?"

"Lagi ngapain, boru?"

"Baik-baik ya disana, inang"

"Kakak, sabar ya, nak"

"Kakak, pijitin dulu"

"Kau banyak kali sih maunya"

"Kakak-an harus kasih contoh sama adiknya"

"Pongaaa......"

"Ada Gogirl tuh di mobil"

"Kakak, kasih makan anjing"

"Kau jangan pulang malam-malam"

"Siapa itu kawanmu?"

"Ayo ayo bangun gereja"


Somehow, kata-kata ini masih terngiang-ngiang di kuping. Sakitnya sampe ke ulu hati. Kolam rindunya udah jadi samudera. Untuk kesekian kalinya, Tuhan, I give it all to You.



Day 2

Hari ini mau bagi-bagi review Teori Komunikasi yah! :D

Spiral of Silence



Dalam mempelajari teori-teori komunikasi dalam kajian media kita mengenal salah satu teori yang biasa disebut Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory). Teori yang didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Elisabeth Noelle dan Neumann ini berfokus pada opini publik. Berdasarkan ilustrasi cerita yang diberikan Carol Johansen dalam buku Pengantar Teori Komunikasi, kita diberikan sebuah pemahaman mengenai suatu kondisi dimana seseorang lebih memilih untuk tidak mengatakan pendapat atau opininya tentang suatu isu disebabkan karena pendapat atau opininya tersebut bertentangan dengan opini publik.
                Individu mempunyai opini tentang berbagai isu. Dalam menyampaikan opininya individu-individu itu terlebih dahulu melihat lingkungan untuk mencari dukungan bagi opini mereka, terutama dari media massa. Mereka yang memiliki sudut pandang minoritas mengenai isu-isu publik akan merasa bahwa komunikasi mereka dibatasi. Sedangkan mereka yang memiliki sudut pandang mayoritas akan lebih terdorong untuk membuka suara. Teori Spiral Keheningan ini memiliki tiga asumsi :
1.       Masyarakat mengancam individu-individu yang menyimpang dengan adanya isolasi; rasa takut terhadap isolasi sangat berkuasa. Masyarakat memegang kekuasaan dalam membentuk opini publik, maka ketika seorang individu membawa sebuah perbedaan akan muncul ketakutan akan terisolasi. Individu akan merasakan tekanan untuk setuju dengan opini atau pendapat mayoritas walaupun hal tersebut belum tentu benar.

2.       Rasa takut akan isolasi menyebabkan individu-individu untuk setiap saat mencoba menilai iklim opini. Individu terlibat dalam kemampuan kuasi-statistik. Seseorang dapat menganalisis pendapat orang lain terhadap suatu isu dan menggabungkannya dengan pandangan diri sendiri. Dari situ seseorang akan dapat menilai apakah opininya akan dapat diterima atau tidak. (Observasi pribadi)
Media dapat menguatkan atau melemahkan sebuah opini. Seorang individu mencari media untuk mengonfirmasi atau tidak mengonfirmasi pengamatan mereka dan kemudia menginterpretasikan pengamatan mereka melalui media. (Observasi media)

3.       Perilaku publik dipengaruhi oleh penilaian akan opini publik.
Opini publik mempengaruhi perilaku publik. Perilaku publik dapat berupa berbicara mengenai suatu topik atau diam. Dukungan atau motivasi dari lingkungan sangat mempengaruhi perilaku mereka. Karena itu setiap individu cenderung mengikuti arus sosial.

                Media mempengaruhi pembentukan opini publik. Masyarakat seakan dituntun oleh media dalam menyepakati suatu konsensus tentang sebuah isu. Arahan media ini dapat mempersempit persepsi seseorang, ditambah tiga karakteristik media yang merujuk pada fakta bahwa media adalah sumber informasi yang berkuasa; Ubikuitas (keyakinan bahwa media ada dimana-mana); Kekumulatifan (keyakinan bahwa ada pengulangan dalam media); Konsonansi (keyakinan bahwa semua media sama dalam hal sikap, keyakinan, dan nilai).
                Ditengah maraknya pembentukan opini publik terdapat kelompok minoritas yang bersedia menyuarakan pendapatnya tanpa memedulikan ancaman isolasi sosial. Kelompok ini disebut para hard core, kelompok ini sangat penting dalam mengubah opini publik yang cenderung seragam. 

Day 1: So U ready?


31 hari menulis adalah suatu tantangan hasil bentukan teman-teman Komunikasi UGM yang mengharuskan pesertanya buat nulis di blog/tumblr/notes facebook/dll selama 31 hari penuh. Format tulisannya bebas, nge-post gambar juga boleh tapi buat tahun ini kalo ngepost gambar harus pake tulisan juga. Terus untungnya apa? Untungnya, selain kita bisa mengasah kemampuan dan membiasakan diri buat nulis, pemenang tantangan ini bakal dianugerahi penghargaan sebagai "Blogger Terangker Komunikasi UGM, dan berhak atas semua uang denda (kalo ga nulis perharinya denda 20ribu). Lumayan bgt kan??? Emang sih resikonya kalo kelupaan nulis itu lumayan berat.... Anak kosan didenda 20ribu itu sesuatu bgt :''') 

Tapi......... kalo kata Paulo Coelho dalam bukunya "By The River Piedra I Sat Down and Wept" :

"Kau harus mengambil risiko..... Kita hanya dapat memahami keajaiban hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal tak terduga untuk terjadi...."

Jadi inilah saya, mencoba memenuhi tantangan yang saya ambil untuk menulis selama 31 hari full tanpa jeda. Mudah-mudahan tulisan saya gada yg bolong (mahal bok dendanya-_-) . Soooo, cemungudh ea kk2 yg ikutan juga :D