Hari ini mau bagi-bagi review Teori Komunikasi yah! :D
Spiral of Silence
Dalam mempelajari teori-teori
komunikasi dalam kajian media kita mengenal salah satu teori yang biasa disebut
Teori Spiral Keheningan (Spiral of
Silence Theory). Teori yang didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh
Elisabeth Noelle dan Neumann ini berfokus pada opini publik. Berdasarkan
ilustrasi cerita yang diberikan Carol Johansen dalam buku Pengantar Teori
Komunikasi, kita diberikan sebuah pemahaman mengenai suatu kondisi dimana
seseorang lebih memilih untuk tidak mengatakan pendapat atau opininya tentang
suatu isu disebabkan karena pendapat atau opininya tersebut bertentangan dengan
opini publik.
Individu
mempunyai opini tentang berbagai isu. Dalam menyampaikan opininya
individu-individu itu terlebih dahulu melihat lingkungan untuk mencari dukungan
bagi opini mereka, terutama dari media massa. Mereka yang memiliki sudut
pandang minoritas mengenai isu-isu publik akan merasa bahwa komunikasi mereka
dibatasi. Sedangkan mereka yang memiliki sudut pandang mayoritas akan lebih
terdorong untuk membuka suara. Teori Spiral Keheningan ini memiliki tiga asumsi
:
1.
Masyarakat mengancam individu-individu yang
menyimpang dengan adanya isolasi; rasa takut terhadap isolasi sangat berkuasa.
Masyarakat memegang kekuasaan dalam membentuk opini publik, maka ketika seorang
individu membawa sebuah perbedaan akan muncul ketakutan akan terisolasi.
Individu akan merasakan tekanan untuk setuju dengan opini atau pendapat
mayoritas walaupun hal tersebut belum tentu benar.
2.
Rasa takut akan isolasi menyebabkan
individu-individu untuk setiap saat mencoba menilai iklim opini. Individu
terlibat dalam kemampuan kuasi-statistik. Seseorang dapat menganalisis pendapat
orang lain terhadap suatu isu dan menggabungkannya dengan pandangan diri sendiri.
Dari situ seseorang akan dapat menilai apakah opininya akan dapat diterima atau
tidak. (Observasi pribadi)
Media dapat menguatkan atau melemahkan sebuah opini. Seorang
individu mencari media untuk mengonfirmasi atau tidak mengonfirmasi pengamatan mereka
dan kemudia menginterpretasikan pengamatan mereka melalui media. (Observasi
media)
3.
Perilaku publik dipengaruhi oleh penilaian
akan opini publik.
Opini publik mempengaruhi perilaku publik. Perilaku publik dapat
berupa berbicara mengenai suatu topik atau diam. Dukungan atau motivasi dari
lingkungan sangat mempengaruhi perilaku mereka. Karena itu setiap individu
cenderung mengikuti arus sosial.
Media
mempengaruhi pembentukan opini publik. Masyarakat seakan dituntun oleh media
dalam menyepakati suatu konsensus tentang sebuah isu. Arahan media ini dapat
mempersempit persepsi seseorang, ditambah tiga karakteristik media yang merujuk
pada fakta bahwa media adalah sumber informasi yang berkuasa; Ubikuitas
(keyakinan bahwa media ada dimana-mana); Kekumulatifan (keyakinan bahwa ada
pengulangan dalam media); Konsonansi (keyakinan bahwa semua media sama dalam
hal sikap, keyakinan, dan nilai).
Ditengah
maraknya pembentukan opini publik terdapat kelompok minoritas yang bersedia
menyuarakan pendapatnya tanpa memedulikan ancaman isolasi sosial. Kelompok ini
disebut para hard core, kelompok ini
sangat penting dalam mengubah opini publik yang cenderung seragam.